Wednesday, June 27, 2012


1.1 Belajar dari Kesalahan.
           
            Kesalahan bagi kita yang baru belajar adalah hal yang biasa. Dari kesalahan itulah kita belajar, justeru dengan kesalahan kita akan jadi tahu mana yang benar, sehingga kita akan selamanya ingat bahwa hal seperti itu salah dan kita jadi tahu dan kita berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan yang ada.

            Belajar menulis, mengetik naskah lalu menyimpan dengan menggunakan save as lalu saya simpan ke file yang terdahulu, lalu ada tampilan replace existing file,  saya klik  ok, setelah saya tutup, dan  ketika dibuka lagi yang ada hanya tulisan yang baru dan tulisan yang lama sudah hilang. Padahal yang dikehendaki mau menambahkan tulisan, ih malah hilang. Saya akui ini kebodohan saya, tapi dari kebodohan ini saya         
jadi tahu, dan berhati-hati agar tidak terulang lagi. Hehe.

            Untungnya, semua tulisan yang terdahulu diposting di facebook  komonitas Bersama Tarekat Tijani, alhamdulillah bisa dikopi lagi. Terimakasih facebook. Kalau tidak ada kamu  entah bagaimana jadinya.
            Mengingat pengalaman sebelumnya rusaknya komputer, tanpa bisa diperbaiki lagi, sehingga semua tulisan tak mungkin bisa dilihat lagi. Untungnya masih sempat diprin. Hal ini  mengingatkan saya untuk selalu memusting tulisan saya ke facebook, ternyata ada benarnya. Pas tulisan hilang kita dengan mudah mencarinya di file catatan fb atau di dokumen komonitas yang kita bangun. Alhamdulillah.

            Pengalaman memang berharga, Belajar memang harus mencoba, dan tak takut salah, tak takut ditertawakan. Mungkin anda yang membaca tulisan ini, mengakak sendiri, betapa bodohnya saya. Tapi, saya tidak malu dan tak takut ditertawaan, bahkan dibilang bodoh sekalipun. Saya menulis pengalaman ini karena saya belajar menulis, sekaligus bereksperimin, karena memang saya belajar komputer  pertamanya hanya diajari membuka dan mematikan komputer saja oleh teman saya, selebihnya hanya belajar dengan keberanian saja klik sana  dan klik situ.

            Belajar memang tak perlu malu. Misalnya kalau  sudah tua belum bisa membaca Al Qur`an, lalu  malu belajar  lantaran usia tua,  mana mungkin bisa membaca Al Qur`an. Begitu juga belajar menulis, ataupun belajar hal-hal lainnya. Jangan ada alasan apapun, apakah alasan karena tua, alasan karena tidak ada waktu, dan alasan-alasan lain yang
hanya menghambat kita dalam belajar. Begitu pula  belajar menulis, kita harus bisa mengikis alasan pembenaran untuk  tidak menulis. Enyahkanlah rasa malu dan  alasan untuk raih kesuksesan.

            Belajarlah dari kesalahan!  Kesalahan karena mencoba adalah lebih baik ketimbang tidak pernah salah karena belum pernah mencoba. Dan kegagalan yang terbanyak adalah dikarenakan ketakutan  pada kegagalan yang pertama, lalu tidak pernah mencobanya sekali lagi. Yang sering kita tatap adalah pintu yang sempit karena kegagalan itu, padahal masih banyak pintu lain yang terkembang lebar, dan di sanalah kesuksesan itu berada.

            Yakinlah kalau kran yang satu mampet, masih banyak kran-kran lain yang bisa terbuka dan bisa mengalirkan air untuk kita. Yang terpenting adalah mencoba, dan mencoba, sampai akhirnya kita menemukannya. Sungguh pengalaman mencoba itulah yang akan menjadi guru terbaik buat diri kita sendiri. Begitu juga dengan menulis cerpen.  Dan yakinlah semua itu bukanlah suatu kesia-siaan.

No comments:

Post a Comment