Friday, April 12, 2013

Buku Motivasi Menulis: Pintar Menulis Cerpen dalam Sepekan: Hari Pertama



HARI  PERTAMA
UBAH POLA PIKIR ANDA
                 
                Mengapa banyak orang  beranggapan bahwa menulis itu susah, menulis itu sulit? Dan, apakah Anda termasuk orang yang beranggapan seperti itu?  
            Padahal, jika Anda tahu caranya, menjadi penulis syaratnya tidak terlalu rumit.  Anda cukup  tidak buta aksara. Itulah modal dasarnya. Selanjutnya, Anda terus berlatih menulis dengan menulis. Karena menulis merupakan keterampilan, untuk mendapatkannya tidak ada cara lain kecuali hanya dengan banyak berlatih.
            Sebagai  bahan acuan Anda berlatih menulis, buku  Pintar Menulis Cerpen dalam Sepekan ini  saya susun. Sebenarnya buku ini hanya acuan saja, waktu sepekan menurut saya cukup singkat. Acuan waktu  sepekan yang saya gunakan dalam buku ini bisa tarik-ulur. Anda bisa mengulur waktunya  pintar menulis cerpen dalam waktu tujuh tahun, hehe, lama amat ya, tujuh bulan, tujuh minggu, sebulan. Atau, bisa Anda tarik menjadi tujuh jam Anda sudah pintar menulis cerpen. Itu tergantung  pikiran Anda. Kalau Anda pikir bisa, pasti bisa.  Jadi, sepekan di sini saya gunakan untuk  tahapan kronologis  penulisan buku saja. Tepatnya , Paling tidak ada tujuh tahapan  yang harus kita  lakukan kalau  Anda ingin pintar menulis cerpen. Namun, sekali lagi saya katakan bahwa tahapan atau langkah yang saya tawarkan juga tidak mengikat  harus begitu karena para penulis memiliki kreativitas  masing-masing dalam berkarya.
            Sebagai bahan motivasi awal bagi Anda,  saya punya teman yang cerpen pertamanya dimuat di Serambi Ummah, namanya Syamsul Arifin. Awal kisah, Hari Minggu, tanggal 15 Juli  2012, Syamsul datang ke rumah saya. Ia siswa baru Madrasah Aliyah Rakha Amuntai. Dan ia juga mondok di Asrama Ponpes Raudhatuthalibin asuhan KH.Mukti.  Ia mengenal saya lewat buku saya yang berjudul Mudah Menulis Cerpen, yang ia beli di toko buku Sumber. Sebelum ia datang ke rumah, beberapa hari sebelumnya, ia minta waktu berbicara lewat HP, saya bersedia meluangkan waktu untuknya. Ternyata ia tertarik menulis cerpen setelah membaca buku tersebut. Hampir satu jam  pembicaraan  lewat telepon, banyak pertanyaan yang ia lontarkan, mulai apa  itu tema,  apakah sama dengan judul, perlukah membuat kerangka terlebih dahulu, dan lainnya. Jawaban pemungkas  saya begini, kalau kamu mau menulis cerpen, tulis saja, jangan memikirkan apa itu tema, yang penting menulis.  Alhasil, hari ini ia memperlihatkan karyanya. Luar biasa.
            Alhamdulillah, hati tersenang. Namun, ketersenangan saya agak terusik setelah mendengar ceritanya, bahwa buku yang dibelinya itu disita oleh kakak pembinanya.  Alasannya, barangkali belum saatnya membaca buku-buku seperti itu, atau mungkin kover bukunya  bergambar gadis, entahlah.
            Untuk mengganti bukunya yang disita itu saya hadiahkan buku kiriman Pak Ewa, Percaya Ngak Percaya Menulis Itu Mudah, dan saya kasih juga buku saya, Sekarang Saatnya Belajar Menulis dengan Menulis. Dengan harapan semoga ia lebih semangat menulis.
            Membaca hasil karyanya, saya tercengang. Saya berkata dalam hati, anak ini memiliki potensi yang luar biasa. Ya, walaupun kita akui masih banyak kesalahan, baik dari segi tanda baca, kalimat yang kurang efektif, dan pilihan katanya. Setelah saya koreksi, ia  mengerti dan bersedia memperbaikinya lagi. Saya katakan kepadanya, Kalau sudah diperbaiki, serahkan lagi, dan insyaallah saya edit lagi, lalu kita masukkan ke Antologi GPM  Amuntai. Ia mengakurinya. Rupanya karya tadi ia kirimkan ke redaksi serambi ummah, ternyata diterbitkan. Luar biasa kan?
            Beberapa minggu sebelumnya  siswi MAN 5 Haur Gading juga pernah datang ke rumah, namanya Radhiati. Ia menyerahkan tiga cerpennya. Ia juga mengenal saya lewat buku yang ia baca. Sebagai hadiah untuk memacunya lebih giat menulis, saya hadiahkan buku Menulis Tanpa Berguru karya Pak Ersis Warmansyah Abbas.
            Benar apa yang dikatakan Pak Ewa, belajar menulis, ya dengan menulis. Tak perlu banyak tanya, tak perlu banyak menyoal, tak perlu banyak beralasan. Tulis, pastinya tulisan pun ada. Dua orang siswa yang saya paparkan di atas adalah buktinya. Persolan belum bagus, masih banyak salahnya, tak perlu dipersoalkan. Karena menurut saya hal itu jauh lebih bagus ketimbang tidak menulis. Menulis, nyata hasilnya tulisan. Nah, dari tulisan itulah kita belajar. Kalau salah, tinggal perbaiki. Kalau belum bagus, menulis lagi yang lebih bagus. Kalau belum menulis, apa yang harus diperbaiki? Makanya menulis dulu, baru kita tahu mana salah, mana kurangnya.
            Anda tak perlu heran, kalau Alya yang berumur sebelas tahun, di tahun 2009 ia sudah menerbitkan novelnya yang ketiga, Senyum Monalisa. Lalu Anda bagaimana?  Kalau Anda sudah siap, dan memang berkeinginan pintar menulis cerpen, langkah pertama yang harus  Anda lakukan adalah ubah pola pikir Anda dulu.
            Selama ini Anda menganggap menulis itu sulit.  Anggapan itu yang harus kita ubah. Anda mengatakan itu karena Anda belum tahu caranya. Kalau Anda mengetahui caranya, Anda akan mengatakan bahwa menulis itu memang mudah, setidaknya  menulis itu tidak sesulit yang Anda bayangkan selama ini. Untuk mengubah pola pikir  tadi saya akan memberikan suntikan khusus buat Anda pada uraian berikutnya, sehingga akan  menambah semangat Anda untuk mengubah pola pikir Anda. (Bersambung)


No comments:

Post a Comment