Thursday, May 28, 2015

Cerpen "Terusir"



Cerpen: Terusir


Gerimis masih  menyisakan gemercik  air membentur atap rumah, berderai   membasahi bumi. Sesekali kilat menyambar menerangi pekatnya malam. Angin yang berhembus menambah dinginnya suasana.  Di saat seperti ini, di sebuah rumah  terlihat seorang wanita mengeluh karena rasa sakit yang mendenda.
                “Aduuuh ...” keluh wanita itu sambil memegangi perutnya.
                “Armanita! Coba kamu periksakan dirimu ke dokter! Mama lihat seper tinya perutmu itu  semakin hari semakin membesar, mama takut kelau-kalau itu penyakit,” ucap Bu Hamziah pada anaknya.
            Armanita hanya diam, ia menunduk, nampaknya ada beban yang sangat berat yang ia sandang. Sejurus kemudian ia sesunggukan,  kemudian ia  menghambur memeluk ibunya.
            “Mama ... bu ... bukan penyakit yang ada di perut saya ini Ma, tapi cabang bayi.”
            “Apa!” sentak Bu Hamziah. Ia langsung melepas pelukan anaknya.
            “Ja ... jadi, kamu hamil?”
            “Ya, Ma.”
            “Mengapa kamu tidak bilang dari dulu Nak?” Sesal Bu Hamziah. “Pantas saja sepulang dari  kota,  kamu terlihat murung dan pucat. Aku tidak menyangka kamu hamil Nak. Dan  kamu tidak pernah cerita pada mama, kalau kamu  kawin dan menikah di sana, itulah sebabnya mama mengira itu hanya penyakit.”
            Sebenarnya Bu Hamziah sempat curiga, kalau anaknya berbadan dua. Ketika Armanita mengeluhkan mual dan muntah-muntah. Tapi kecurigaan itu terbantahkan oleh pengakuan Armanita sendiri yang mengatakan, kalau dia hanya masuk angin dan  baik-baik saja.
            “Ma ... maafkan saya Ma,”  Armanita  semakin terisak. “saya tidak berani bercerita sama Mama, saya takut kalau-kalau Mama marah.”
            Bu Hamziah memeluk anaknya yang kini sedang hamil empat bulan, tanpa bisa menahan linang air matanya. Begitu pula Armanita semakin senggugukan di pelukan mamanya.  
            Bu Hamziah sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa anaknya. Ia pun berusaha tegar. Namun gurat-gurat penyesalan tetap terlihat di wajahnya.

            “Sudahlah anakku, mama tidak marah, namun mama sangat menyesal. Mungkin ini salah mama juga, mengapa mama  mengizinkan kamu merantau ke kota untuk merubah nasib. Andai waktu itu ....”
            “Ma, mama tidak salah, saya yang salah. Andaikan aku bisa menjaga kehormatanku sebagai wanita, dan tidak tergoda dengan gemerlapnya harta dunia, mungkin ini tidak akan terjadi Ma. Ini mungkin sudah  menjadi azab  atas perbuatanku sendiri Ma. Maafkan Armanita Ma, yang tidak bisa menjaga kepercayaan Mama.”  Armanita semakin terisak, menyesali perbuatannya.

            Bu  Hamziah cuma bisa pasrah.  Ya bagaimana lagi, andai waktu bisa diputar ulang, mungkin Bu Hamziah tidak akan mengizinkan anaknya mengadu nasib ke kota. Sebenarnya  berat hati Bu Hamziah  mengizinkan Armanita waktu itu. Karena alasan ekonomilah Bu Hamziah mengizinkan anaknya.  Ya karena semenjak kematian suaminya  kehidupan mereka sangat susah. Ia bekerja serebutan, kalau musim tanam, ia bekerja sebagai upahan tuk menanam padi di sawah, begitu juga Armanita.  Buruh cuci pun mereka lakoni. Namun, kehidupan mereka tetap saja miskin.

            Di saat seperti itulah, Armanita mendapat tawaran dari teman  sekelasnya waktu di SMA yang kini sudah sukses  bekerja di kota.
            “Ar, gimana kalau kamu ikut aku ke kota. Sementara kamu belum dapat pekerjaan di sana, kamu boleh menumpang di rumahku. Ya,  mungkin sekalian bantu-bantu aku di rumah,  gimana Ar, kamu bersedia?”
            “Ya gimana ya Mir, aku mikir dulu, lagian aku juga harus izin dulu sama mama, kalau mama ngizinin, ya aku bersedia.”
            “Aku yakin, ibumu pasti ngizinin kamu,” Tukas Mirna dengan penuh keyakinan.
            “Masalahnya, Mir, kamu tahu  sendirikan, saat kita sekolah dulu, aku adalah siswi paling bodoh,dalam kenaikan kelas, aku  pasti diurutan paling uncit,  mana mungkin aku bisa kerja di sana.”  keluh Armanita.

            “Ya dicoba dululah, siapa tahu nasibmu bisa berubah, seperti aku.” Ungkap Mirna.
            “Mir, aku tetap tidak yakin, tapi kalau soal masak memasak aku bisa, gimana kalau aku kerja dengan kamu saja?”

            “Maksudmu, jadi pembantu aku?”
            “Ya Mir, mungkin pekerjaan itu saja bisa aku lakukan.”
            “Ngomong-ngomong,  suamimu mana?” tanya Mirna.
            Armanita menunduk sedih, “Suamiku sudah meninggal, setahun yang lalu.”
            “Maafkan aku Ar, kalau pertanyaanku membangkitkan lukamu.”
            “Ngak apa-apa Mir.”

                        Perbincangan akrab dua teman yang sudah lama tidak bertemu itu semakin hangat. Sementara itu, Bu Hamziah masih di dapur menyiapkan minuman untuk mereka. Tak lama Bu Hamziah sudah berada di tengah-tengah mereka. Dan menyuguhkan teh hangat.
            “Silakan Nak Mirna diminum tehnya, ya cuma teh dan ubi rebus aja yang bisa kami suguhkan.”
            “Ya terima kasih Bu. Bu, mumpung kita lagi ngumpul di sini, saya minta izin tuk ngajak Armanita mengadu nasib ke kota, ya maunya Armanita  katanya sih mau kerja jadi pembantu rumah tangga saya saja. Gimana, Ibu tidak berkeratan?”

            “Ibu sih tidak keberatan, dan mengizinkan aja, kalau memang Armanitanya sudah punya tekad yang bulat, cuma ibu pesan, kamu harus bisa membawa dan menjaga diri. Kamu paham Ar yang mama maksud?”

            “Ya, Ma, saya ngerti. Makasih Mama sudah ngizinin Ar untuk berusaha mengubah nasib. Tapi bagaimana dengan Aldi Ma?”
            “Soal anakmu Mama bisa mengurusnya, kamu tak perlu khawatir.”

            Begitulah awal cerita Armanita terdampar di kota besar. Saat berangkat, peluk dan tangis mewarnai perpisan anak dan ibu. Lebih-lebih  Armanita yang harus rela berpisah dengan anaknya yang masih berumur  lima tahun itu,  dengan sangat terpaksa  melepaskan pelukan anaknya  yang  meraung, menangis sejadi-jadinya, karena ia mengerti akan ditinggalkan ibunya. Sakit, perih rasanya  hati  menyaksikan adegan permisan  ibu, cucu dan anaknya itu.  Lebih-lebih bagi Armanita, ya karena alasan ekonomilah, ia harus rela berpisah dengan ibu dan anaknya.

            Keputusan sudah diambil, tekad pun sudah bulat.  Beruntung  Armanita  mendapatkan  kebaikan seorang teman yang rela menampung dan memperkerjaanya di rumahnya sendiri. Namun, tentu saja tidak seperti pembantu kebanyakan. Mirna dan suaminya memperlakukan Armanita seolah saudaranya sendiri.
            Rumah yang begitu besar dan mewah. Fasilitas yang serba ada membuat Armanita berdecak kagum atas kesuksesan temannya ini. Terang saja mereka bisa memiliki fasilitas yang serba wah, soalnya keduanya adalah pengusaha sukses.
            Namun, ada sedikit keganjilan di rumah mewah ini. Semenjak Armanita berada di rumah itu, ia tidak melihat ada orang lain selain mereka.
            “Maaf Mir,  aku boleh tanya?”
            “Silakan Ar, ada apa?”
            “Kamu belum punya anak?”
            Mirna terlihat sedih, “Ya Ar, sudah tujuh tahun kami berumah tangga, namun belum dikasih momongan. Ya kami sudah berusaha berobat  ke berbagai tempat, namun belum berhasil, kayanya aku yang bermasalah ”
            “Oh, maafkan saya Mir, kalau pertanyaanku menyakiti hatimu. Yang sabar ya.”

            Begitulah nasib manusia, ada saja sisi kelebihan dan kekurangannya. Ini pertanda hanya Allahlah yang Maha Sempurna itu.

            Roda waktu terus berputar. Keakraban  Mirna, Armanita dan Angga, suami Mirna semakin hangat. Ada  sedikit kekhawatiran dan rasa cemburu  terbersit di hati Mirna melihat keakraban suaminya. Ia merasakan tatapan mata suaminya pada Armanita, bukanlah tatapan seorang teman, tapi lebih dari itu. Begitu juga tatapan Armanita ketika melayani mereka di ruang makan, seolah Armanita berharap lebih.  Ah, mungkin  itu perasaannya saja, begitu pikir Mirna untuk menetralisir  perasaannya.

            Suatu malam, di saat semua penghuni rumah sudah terlelap dalam buaian mimpi indah masing-masing. Namun, Armanita belum bisa memejamkan matanya, ia gelisah, ia tidak mengerti perasaannya, mengapa ia begitu mengaharap Angga, suami temannya  sendiri. Armanita berusah membuang jauh angannya itu. Tapi semakin berusaha membuang angan itu, malah godaan  nafsunya terus menggodanya untuk menguasai dan memiliki suami temannya sendiri, beserta fasilitas yang dimilikinya. Pikiran kotor itu pun terus menghunjam dalam benaknya.

            Sementara itu  di kamarnya sendiri, Angga juga belum bisa memajamkan matanya. Sedangkan Mirna sudah  sejak  tadi  tertidur pulas.  Angga merasakan getaran aneh semenjak Armanita  masuk dalam kehidupan mereka. Lebih-lebih  dalam mingggu terakhir, Angga merasakan perhatian Armanita kepadanya,  yang belum pernah ia dapatkan dari Mirna istrinya. Mungkin itu karena kesibukan mereka masing-masing dalam berbesnis.

            Sejurus kemudian, Angga beringsut  keluar kamar.  Ia coba menghilangkan  gundahnya itu  dengan  membuat  minuman segar di dapur,  sambil mengisap  rokok. Tapi, hal itu belum bisa menghilangkan desiran hasrat  di hatinya.

            Anganya terus  memburunya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengungkapkan rasa itu pada Armanita. Diam-diam ia mulai  menuju kamar Armanita. Pintu kamar Armanita ia ketok.

            Ketika mendengar ketokan pintu kamarnya, jantung Armanita berdetak kencang, ada perasaan gugup, ada rasa harap juga. Armanita berjalan perlahan menghampiri pintu, setelah tiba di pintu ia tidak langsung membukanya. Ia masih menunggu ketokan berikutnya. Suara ketokan pun kembali terdengar.
            “Si ... siapa?” Tanya Armanita agak gugup.
            “Aku, Ar!” Seru Angga agak lirih.
            Armanita belum berani membuka pintu kamarnya.
            “Tolong buka pintunya dulu!” pinta Angga lagi.
            “Tapi, Kak!”
            “Ayolah, sebentar saja, ada yang harus saya bicarakan!” Bujuk Angga.
            “Besok saja Kak, saya takut terjadi fitnah,” sergah Armanita.
            “Armanita! Ini penting sekali, tidak bisa ditunda besok,”
            Armanita tidak bisa menolak  kemauan  Angga yang begitu baik, ia buka pintu perlahan. Setelah pintu kamar terbuka, secepat kilat Angga masuk.
            “Ada apa Kak?” tanya Armanita agak gugup.
            “Armanita, sudah lama aku memendam rasa ini, aku  tidak bisa tidur, aku terus memikirkanmu. Aku tak tahu apakah ini cinta? Atau apa? yang jelas sejak kamu hadir di kehidupanku, aku merasakan getaran-getaran itu dalam jiwaku, dan itu hampir tak pernah aku dapatkan pada diri Mirna,” sambil berkata seperti itu   Angga coba memeluk Armanita.
             Namun, Armanita tidak berusa berontak. Seolah ia juga menaruh harapan yang sama.
            “Tapi Kak, bagaimana dengan Mirna?” Armanita membalikkan punggungnya menantang wajah  Angga.
            “Jangan khawatir, rahasia ini hanya kita berdua yang tahu.” suara Angga bergetar  karena sudah dirasuk nafsu birahi yang bergejolak.
            Sementara Armanita yang sudah lama tidak merasakan belaian dan perhatian seorang laki-laki juga sudah dirasuk nafsu iblis, ia sudah lupa segalanya, akal sehatnya sudah melayang entah kemana, sehingga malam itu terjadi hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan sepasang anak adam yang belum diikat tali pernikahan. Perselingkuhan Majikan  dan pembantu kurang ajar pun terjadi malam itu.    Pengkhianatan suami pada istrinya, pengkhiatanan seorang teman pada teman baiknya sendiri, sungguh pagar makan tanaman.           
            Dosa demi dosa terus berlanjut.  Kecurigaan Mirna sebelumnya semakin  bertambah. Hal itu ia rasakana, karena suaminya tidak begitu beragairah memberikan nafkah batinnya, dan  hampir setiap malam mendapati  suaminya tidak berada di sampingnya. Dicarinya suaminya di ruang kerja, namun tidak ia temukan. Sampai akhirnya ia mendengar suara mencurigakan di kamar Armanita, ia coba  pasang kupingnya dan mengintip dari lobang kunci. Mata Mirna terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Kecurigaannya sudah menjadi kenyataan. Tanpa permisi ia langsung menghambur ke dalam kamar itu. Dan menumpahkan sumpah-serapahnya pada suami dan Armanita.
            “Dasar wanita murahan!  heeeh, plak, plak,” tamparan keras mendarat di pipi Armanita. “Pergi ... pergi kamu dari sini! Aku tak menyangka Ar, kamu adalah teman yang sudah kuanggap saudara sendiri tega mengkhianatiku ...” Mirna tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
            “Ma ... maafkan aku Mir... aku khilaf.” Armanita memeluk kaki  Mirna.
            Mirna mendongak menahan geram,  kakinya yang dipeluk Armanita pun ia hentakkan, membuat Armanita terguling di lantai. “Pergi ... pergi! Aku tak sudi serumah dengan pengkhianat. Cepat ... sebelum aku berubah pikiran.” Teriak Mirna kesetanan.

            Armanita pun malam itu terusir dari rumah teman yang  begitu baik. Karena ia tak mampu menjaga amanah yang diberikan temannya itu, ia begitu tega mengkhiananti  temannya sendiri.

             Sementara Angga tertunduk. Menunggu ponis apa yang akan dijatuhkan istrinya padanya.
            “Mas!” Sambil berurai air mata Mirna  berusaha tetap tegar, dan keputusannya sudah bulat. Ponis pun akan ia jatuhkan. “Besok aku akan ke Pengadilan Agama untuk menggugat cerai.”
            Setelah mengucapkan kata-kata itu, Mirna menghambur keluar  meninggalkan kamar  laknat itu sambil menutup wajahnya. Ia hempaskan tubuhnya di ranjang kamarnya, ia tidak habis-habisnya menyesali perbuatan temannya yang tega menuhuknya dari belakang.
            Bahtera rumah tangga pun hancur berantakan diterpa badai yang begitu ganas. Gelap sudah jalan yang mesti ditempuh. Tak ada alasan lagi untuk memperbaiki bahtera yang hancur. Jalan  satu-satunya adalah cerai. Hancur lebur hati Mirna tak bisa digambarkan lagi. Sementara Armanita berjalan gontai. Ia pun harus pulang ke kampung halaman dengan membawa sesal yang dalam.

***
Begitulah manusia. Tidak lepas dari empat keadaan. Kadang berada dalam ketaatan, kadang berada dalam kemaksiatan. Kadang berada dalam nikmat, kadang berada dalam penderitaan. Manusia memang hina, lemah secara hakiki. namun, kita dituntut untuk bersikap bijak agar kita bisa menyikanya dengan baik. 
Semua itu memang perlu dukungan dari pengetahuan agama, terutama ilmu tauhid. 

Ilmu tauhid, ilmu yang mengarahkan kita kepada sikap yang benar. Saat kita berada dalam ketaatan, kita sadar apa yang kita lakukan adalah karunia dari Allah semata, sehingga kita bisa berada dalam ketaatan. Bersyukurlah. Begitu pula ketika kita berada dalam kenikmatan, baik lahir maupun batin, adalah semata karunia dari-Nya, kita pun dituntut mensyukurinya. Tatkala kita dalam kemaksiatan, akuilah kita yang lemah, lemah iman, tak mampu melawan nafsu kita sendiri, mintalah ampunan Allah, sungguh Allah Maha Pengampun. Dan, tatkala kita dalam kesengsaraan, bersabarlah. Telitilah, boleh jadi sebagai teguran atas dosa yang kita lakukan.

Hindarilah Perceraian



Menikah, Ogah Bercerai.

                Menikah adalah satu di antara  sunnah Rasul  bagi umat Islam yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, baik dari segi kesiapan materi maupun dari segi mental. Materi yang perlu dipersiapkan  adalah kemampuan memayar mahar, serta fasilitas lainnya yang mendukung. Kesiapan mental  adalah kesiapan menyatukan hati dan keluarga yang berbeda karakter dengan berlandaskan cinta dan  kasih sayang  berlandaskan ajaran agama.
                Perlu saya garis bawahi  pernikahan bukan untuk menyamakan hal yang berbeda karena hal  ini tidak akan mungkin kita lakukan. Yang  bisa kita lakukan adalah menyatukan dua hal yang berbeda tadi. Dari perbedaan-berbedaan itulah kita mencoba memahami karakter masing-masing untuk menuju tujuan yang sama.  Biarlah latar keluarga dan karakter berbeda, tetapi mesti tujuan harus kita samakan untuk kita raih bersama-sama.
                Untuk kelanggengan rumah tangga,  menyamakan persepsi itulah yang harus kita pancangkan bersama. Dari situ jika nanti terjadi perselisihan, kita tinggal mengingatkan kometmen yang kita pancangkan sebelum menikah.
                Yang tidak kalah pentingnya untuk menjaga komentmen tadi diperlukan keterbukaan dan saling pengertian. Keterbukaan dan pengertian terhadap pasangan  adalah wujud dari  cinta dan kasih sayang yang berdasarkan cinta dan kasih sayang karena Allah. Dengan modal dua hal ini  apa pun permasalahan yang dihadapi rumah tangga akan bisa kita atasi.
                Apabila kita sudah bertekad membangun rumah tangga                , kita harus berusaha menjaga dan membinanya jangan sampai ada niat apalagi sampai terjadi perceraian. Bercerai memang dibolehkan dalam agama, namun sangat dibenci agama.
                Kita merasa miris mendengar kabar yang menyebutkan kasus  perceraian semakin meningkat dalam tiap tahun. Dan kasus ini dipicu oleh berbagai sebab,  di antaranya  karena masalah ekonomi, ada cinta lain, dan masalah kepuasan seksual.
                Belum lagi  kasus  menikah seumur jagung.  Nampaknya tidak hanya terjadi pada pejabat pemerintahan, tapi merambah pada masyarakat luas. Di masyarakat awam barangkali tidak terekspos saja. Apa gerangan penyebabnya sehingga umur pernikahan tidak bertahan lama?
                Tentu seja penyebab dan pemicu perceraian masing-masing pasangan berbeda satu sama lainnya. Namun, kalau kita analisis berdasarkan uraian sebelumnya  perceraian tentu bisa kita hindarkan. Berkometmenlah sekali menikah, ogah bercerai.

Monday, February 23, 2015

Kiat Mengerjakan Soal UN Bahasa Indonesia untuk SMA

 1. Ide Pokok dan Kalimat Utama

Melihat soal Bahasa Indonesia mungkin Anda akan menepuk dahi Anda lantaran melihat begitu banyak dan panjangnya teks yang disajikan. Padahal, jika Anda tahu caranya, Anda akan enjoy saja mengerjakan soal tersebut.
 Caranya, jangan baca teksnya, Anda lagsung saja membaca perintah soal yang berada di bawah teks. Misalnya, ide pokok paragraf di atas adalah...


 Untuk mencari ide pokok Anda tak perlu membaca keseluruhan teks yang ada. Anda langsung amati kalimat terakhir, jika ada kata kunci, jika demikian, dengan demikian, jadi, atau kata kesimpulan, berarti ide pokoknya terletak di kalimat terakhir, ini sekaligus Anda menemukan kalimat utama. Berarti ide pokok dan kalimat utamanya di akhir paragraf. Jika tidak ada hal tersebut, berarti kalimat utama terletak di awal paragraf. Ringkasan dari kalimat utama itulah yang sisebut ide pokok.  Tinggal cocokkan dengan pilihan gandanya yang tepat.  Jadi, jika Anda sudah tahu caranya seperti ini, Anda tidak perlu dipusingkan dengan panjangnya teks yang disajikan karena yang Anda baca cuma di akhir atau di awal paragraf.

2. Kalimat Penjelas




Soal untuk kalimat penjelas biasanya disuruh mencari kalimat penjelas yang tidak padu. Kiatnya, setelah kita dapat ide pokok, masalah yang dibahas,misalnya Anda sudah menemukan kalimat utama di awal paragraf berarti kalimat penjelas tidak mungkin di awal paragraf. Carilah kalimat yang tidak sesuai dengan masalah yang dibahas pada kalimat awal pragraf. Kalimat penjelas yang tidak padu disebut juga dengan kalimat yang melencing dari masalah yang dibahas, atau kalimat yang tidak nyambung.

3. Fakta dan Opini

Ciri fakta jika ada angka dan bendanya. Anda bisa  menggunakan teknik membaca selintas teks atau membaca acak mencari angka karena angka akan mudah ditemukan.

Untuk menemukan opini penulis pada tajuk, biasanya berada di dua atau satu kalimat terakhir  paragraf. Atau bisa juga di awal paragraf.

Begitu juga  Anda bisa menemukan keberpihakan penulis, apakah berpihak pada pemerintah, atau masyarakat.

4. Pernyataan sesuai isi pargraf

 Untuk mencari jawaban  pernyataan yang sesuai paragraf, tentu Anda harus membaca teksnya dulu. Namun, Anda bisa juga menggunakan teknik mencari kalimat utama. Kalau sudah ketemu kalimat utamanya, cocokkan saja lagi pilihan ganda yang mendukung kalimat utama tadi.

5. Tujuan Penulis
 Dalam sebuah paragraf tentu tersirat tujuan penulis. Ada yang bertujuan mengajak, memberitahukan, dll. Untuk mengetahui tujuan penulis Anda bisa baca kalimat utamanya. Baca kalimat pertama dan kalimat akhirnya. Pada intinya tujuan penulis disesuaikan dengan jenis paragrafnya.Biasanya paragraf yang sering dimunculkan dalam soal adalah paragraf persuasi, paragraf yang berisi ajakan.
6. Arti kata, istilah
 Untuk bentuk soal ini mau tidak mau Anda harus banyak baca dan sering buka kamus. Jika Anda tidak tahu artinya kata dalam soal, Anda bisa mereka reka yang disesuaikan dengan konteka kalimatnya.

7. Isi biografi

Bentuk soal yang sering muncul adalah tentang keistimewaan tokoh, keteladanan, masalah yang dihadapi tokoh.

Untuk keistimewaan, Anda bisa langsung melihat pilihan ganda. Dari nada kalimat Anda bisa merasakan sesuatu itu istimewa, tentu berbeda dengan kalimat biasa. Misalnya mendapat penghargaan sastra beda dengan tokoh dilahirkan di Jakarta.

Untuk keteladanan tentu yang diteladani hal yang baik. Misalnya, sejak kecil tokoh gemar membaca.

Masalah. Ya, setiap orang tentu punya masalah, termasuk sang tokoh. Yang dimaksud masalah ketidaksesuai antara yang diinginkan dengan yang didapat. Misalnya gagal mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan. 

8. Isi dan simpulan grafik, diagram atau tabel
Bentuk soal ini asal cermat Anda pasti menemukan jawaban yang tepat karena jawabannya sudah tersedia.














Lihat, cermati yang terbanyak dan sedikit, yang tertinggi atau terendah. Dan, untuk kesimpulan cari jawaban yang menggambarkan keseluruhan.


9.
Unsur intrinsik cerpen, novel, drama. Karya melayu klasik

Untuk memudahkan mengingat unsur intrinsik kita buat singkatannya yaitu TATWALSGay. (Tema, alur, tokoh, watak, amanat, latar, sudut  pandang, gaya bahasa).

 Untuk karya melayu klasik, yang ditanyakan bisa berupa karakteristik yang tergambar dalam kutipan teks, ciri yang menonjolnya apa? Bisa teks menonjolkan gaya bahasanya, struktur bahasanya yang berbeda dengan struktur sekarang, bahasa yang sudah kadaluarsa. Bisa juga ditanyakan tentang isi ceritanya.


Membuat rumusan masalah dan latar belakang penulisan karya ilmiah

 Untuk mencari rumusan masalah, Anda bisa langsung kepilihan ganda. Jika hanya satu satunya kalimat tannya menggunakan kata bagaimana, itulah jawaban yang tepat.

Untuk membuat latar belakang, carilah pernyataan yang paling umum yang bisa dijadikan alasan mengapa topik yang tersaji itu perlu diteliti.































































Monday, February 16, 2015

Buku Bingkisan Rindu

Buku Bingkisan  Rindu Sukses Menggai Ridha Ilahi. Buku ini berisi tentang kiat yang bisa kita tempuh untuk menggapai ridha ilahi melalui jalur perjalanan ilmu tarekat. Tarekat yang dibahas dalam buku ini adalah Tarekat At Tijaniyah. Buku bisa dimiliki dengan cara pesan kepenulis langsung, melalui hp0852487982. Atau bisa lewat komentar si blog ini, bisa juga lewat inbox fb Haderi Ideris. Haraga buku 40.000. Sudah termasuk onkernya.

Friday, December 27, 2013

Jurus Sakti Menjadi Penulis




                 
                Banyak orang  beranggapan bahwa menulis itu susah, menulis itu sulit. Apakah Reader termasuk orang yang beranggapan seperti itu?  
            Padahal, jika Reader tahu caranya, Reader tidak akan beranggapan seperti itu lagi. Untuk menjadi penulis, syaratnya tidak terlalu rumit.  Reader cukup  tidak buta aksara. Itulah modal dasarnya. Selanjutnya, Reader terus berlatih menulis dengan menulis. Karena menulis merupakan keterampilan, untuk mendapatkannya tidak ada cara lain kecuali  dengan banyak berlatih. Ibarat orang yang ingin jadi pendekar, sesakti apa pun jurus yang diajarkan gurunya, tanpa latihan, jurus sakti itu tak akan ada ada artinya. Begitulah dengan menulis.
            Belajar menulis, ya dengan menulis. Tak perlu banyak tanya, tak perlu banyak menyoal, tak perlu banyak beralasan. Tulis, pastinya tulisan pun ada. Persoalan belum bagus, masih banyak salahnya, tak perlu dipersoalkan. Hal itu jauh lebih bagus ketimbang tidak menulis. Menulis, nyata hasilnya tulisan. Nah, dari tulisan itulah Reader belajar. Kalau salah, tinggal perbaiki. Kalau belum bagus, menulis lagi yang lebih bagus. Kalau belum menulis, apa yang harus diperbaiki? Oleh karena itu,  menulis dulu, baru Reader tahu mana salah, mana kurangnya.
            Baik Reader! Saya akan menunjukkan jurus sakti yang harus Reader miliki agar bisa jadi pendekar, hehehe, penulis maksudnya.
             
1.      Berani Bermimpi dan Kerja Keras

            Ketika Reader melihat  artikel, cerpen di surat kabar atau majalah, di sana  terpampang nama dan foto penulisnya, terbetik dalam hati  rasa kagum pada   penulisnya. Diam-diam Reader  ingin seperti dia. Namun, Reader  tak tahu caranya, tak tahu bagaimana memulainya. Dan, ketika Reader  memulai menulis, Reader bingung sendiri.  Apa yang harus Reader tulis, dan dari mana Reader menulisnya.
            Saat Reader  mencoba menulis satu paragraf, lalu Reader terhenti,  pikiran terasa buntu. Lalu Reader memvonis diri  tidak mampu, tidak bisa,  tidak punya bakat, dan kata-kata `tidak` lainnya yang disadarkan  ke diri sendiri. Reader pun menganggap, menulis itu hanya milik orang-orang yang pintar dan berbakat saja, menulis hanya dimiliki oleh orang yang berpendidikan tinggi saja, menulis hanya dimiliki oleh orang yang usianya sudah matang, dan berpengalaman saja. Dan, kata-kata `hanya` dan `hanya` terus tergiang dalam diri Reader yang menandaskan diri  tidak mampu.
            Padahal,  penulis-penulis mahir itu pun seperti Reader juga. Awalnya, ada rasa mender, seperti yang Reader rasakan, tetapi  mereka menemukan cara jitu mengatasi kekurangan mereka. Akhirnya, mereka menghasilkan tulisan, mampu menulis, pintar menulis. Apa yang mereka lalukan itulah yang harus Reader ambil sebagai bahan pelajaran.
            Coba perhatikan, ketika Reader mencoba menulis satu kali, lalu gagal, serta-merta Reader menganggap diri Reader tidak mampu, dan Reader tidak mencobanya lagi. Itulah kesalahan fatal yang Reader lakukan.    
            Kesalahan fatal seperti itu jangan sampai menimpa Reader. Reader perhatikan  orang yang  belajar bersepeda, pada mulanya belum bisa, lalu mencoba, mencoba lagi, mencoba lagi dan akhirnya, ia pun bisa bersepeda. Bahkan,  ketika orang itu terus mencoba dengan gaya-gaya yang baru, tidak hanya bersepeda biasa, mereka pun bisa bergaya, menjamping, dan mampu melakukan akrubatik dengan berbagai gaya. Semua itu bisa mereka dapatkan  dengan latihan,  kerja keras, dan pantang menyerah.  Hal ini menegaskan  bahwa  yang  dikatakan Thomas Alfa Edison memang benar bahwa kesuksesan seseorang itu hanya 1 persen karena bakat   dan 99 persennya  karena kerja keras.
            Selama ini yang Reader pelihara adalah kelemahan jiwa, tidak berani  bercita-cita, tidak berani berkeinginan karena berpegang pada nalar bahwa  Reader tidak mungkin bisa jadi penulis  karena merasa  ilmu cuma secuil, pendidikan tidak tinggi,  menulis itu cuma milik orang yang berbakat saja, Reader tidak bisa menyisihkan waktu untuk itu, dan berbagai alasan  untuk mematahkan semangat Reader sendiri.
            Bermimpi, berkeingianan, bercita-cita saja Reader tidak berani, padahal berkeinginan dan bercita-cita tidak memerlukan biaya.  Reader tahu, cita-cita luhur, berkeingan yang baik adalah bagian dari ibadah, walau belum terwujudkan. Lalu, apakah hanya sampai di situ, hanya sampai di mimpi saja? Rugi dong. Lalu?  
            Kalau Reader memang berani bermimpi jadi penulis, bercita-cita jadi penulis, ingin pintar menulis, sekarang bangun dan bergeraklah, wujudkan keinginan Reader itu dengan melakukan.
            Siapa pun Reader, apa pun profesi Reader, dan berapa pun usia Reader, dan apa pun latar belakang pendidikan Reader, asal Reader bisa membaca dan menulis dan mau berlatih dan bekerja keras, pasti bisa menjadi penulis. Orang dikatakan penulis bukan karena usianya, bukan karena pendidikannya, tetapi karena tulisannya.
            Dalam konteks belajar menulis, Reader tak perlu pusing  memikirkan apakah  Reader berbakat atau tidak, langsung saja Reader menulis dan menulis sampai pintar  menulis. Tidak ada hal sia-sia walaupun awalnya Reader salah, dari situlah Reader  tahu bahwa itu  salah.
            Oleh karena itu, bagi Reader yang merasa tidak memiliki bakat menulis, jangan takut dan ragu untuk menjadi penulis. Banyak penulis ternama saat ini,  dulunya, mereka tidak mengetahui diri mereka berbakat atau tidak. Yang mereka lakukan adalah terjun dan menyelam langsung dalam dunia kepenulisan, di mana pun, kapan pun. Mereka sadar sepenuhnya bahwa kesuksesan itu akan bisa dicapai dengan kerja keras. Menulis dan terus menulis.            
            Ini yang perlu Reader camkan dalam pikiran. Selama ini Reader menganggap bahwa menulis itu cuma bisa dimiliki oleh orang yang berbakat saja, harus ini, harus itu. Padahal anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Asumsi semacam itu perlu Reader ubah. 
            Reader merasa tidak berbakat, tidak ada potensi. Itu tidak benar karena Reader dan kita semua memiliki potensi yang sama, yaitu diberikan otak, pikiran. Potensi itulah yang harus Reader gunakan. Bakat tidak akan ada artinya kalau Reader tidak berlatih menulis dengan menulis, dan terus berlatih menulis.
            Reader merasa mender  karena jenjang pendidikan cuma lulus SD? Jangan mender, menulis bukan tergantung jenjang pendidikan, tetapi dari kemauan dan kerja keras. Potensi otak itulah yang harus dimanfaatkan. Reader tahu bahwa menulis itu adalah keterampilan setingkat SD. Bukankah Adam Malik yang pernah menjadi Wapres RI itu, cuma sampai kelas lima SD? Namun, beliau sangat mahir dalam mengarang. Jenjang pendidikan tidak perlu terlalu dipikirkan karena pengetahuan bisa diraup tidak hanya di bangku sekolah kan? Banyak cara bisa ditempuh untuk memperolehnya. Pengetahuan yang ada di otak itulah yang kita tulis, apa pun bentuknya; artikel, buku,  cerpen, dan sebagainya.
            Ratna Indraswari Ibrahim (almarhumah), beliau banyak menerima penghargaan di bidang kepenulisan lantaran karya-karya beliau. Beliau tidaklah seberuntung orang kebanyakan. Beliau cacat dan tidak bisa menggunakan tangan untuk menulis.  Beliau menulis hanya di otak dan meminta  orang lain untuk menuliskan gagasan-gagasan beliau dalam bentuk cerpen. Ini luar biasa, beliau yang cacat saja bisa berkarya, lalu bagaimana dengan Reader  yang diberi kesempurnaan fisik? 
            Jadi, mulai sekarang  jangan takut dengan tulisan yang kacau, jangan malu kalau tulisan Reader masih belum bagus. Hal itu wajar saja karena Reader baru belajar. Jangan cemas, teruslah berlatih menulis dengan menulis. Saya yakin Reader pun akan piawai menulis.
            Saya sering mengingatkan  teman-teman yang ingin belajar menulis, lawanlah rasa takut itu dengan menulis. Ingatlah  falsafah bayi! Coba Reader perhatikan bagaimana pertumbuhan dan perkembangan bayi. Apakah ia langsung bisa berdiri dan berjalan, bahkan bisa berlari? Tidak kan?  Ketika  anak baru belajar berjalan ia mencoba bangkit dari duduknya. Ia pun terjatuh, namun ia coba bangkit lagi. Ia tak pernah mengatakan  berdiri itu susah. Ia tidak mengenal  kata susah, yang ia kenal hanya coba dan coba lagi, ia hanya mengenal bahwa ia harus bisa berdiri. Setelah ia bisa berdiri, ia coba melangkah satu langkah, kemudian jatuh, tetapi ia tak pernah menyerah. Akhirnya, ia pun bisa berjalan. Bahkan, sekarang sudah bisa berlari.
Ingatlah ketika pertama kali Reader memiliki  hp dan belajar mengetik sms!  Apa yang pertama kali Reader rasakan? Awalnya susah, tetapi Reader tak pernah berhenti.  Akhirnya, Reader mahir menggunakan hp Reader sendiri. Bahkan, ketika menyetir atau berkenderaan Reader tidak kesulitan melakukannya. Tangan Reader seolah melihat huruf-huruf  di tuts hp. Seperti itulah yang harus Reader lakukan  kalau memang Reader berkeinginan jadi penulis.
            Jadi, kalau pertama kali berlatih menulis, wajar saja Reader salah, wajar saja belum bagus. Ketahuilah penulis tenar pun awalnya seperti Reader. Namun, mereka tak pernah menyerah, tak pernah takut tulisan mereka tidak bagus, mereka terus menulis, dan terus menulis, begitu pula dengan Reader. Yakinlah Reader juga bisa seperti mereka.

2.      Perlu Motivasi          
Motivasi  adalah pendorong   melakukan sesuatu. Ibarat kerita api, motivasi adalah lokomotifnya,  mesin penggeraknya. Kalau timbul rasa malas, atau Reader sedang tidak mood.  Tanya diri, mengapa Reader harus menulis?
            Motivasi atau alasan mengapa orang menulis bermacam-macam. Apa pun bentuknya, tidak jadi persoalan, yang penting dengan motivasi itu Reader bisa bersemangat menulis.
            Apa pun motivasinya, semuanya bagus dan baik, selama menulis itu tidak  bermaksud  menyebar fitnah, membuat perpecahan, dan mendidik kepada akhlak yang buruk. Dan, akan lebih afdhal lagi  kalau menulis itu dilandasi niat ikhlas karena Allah.
            Atau begini, agar mood tetap terjaga, Reader bisa memakai teori yang ditawarkan  buku Quantum Learning, yaitu teori AMBAK (Apa manfaatnya bagiku). Dengan bertanya begitu  Reader tentu akan menggali apa gerangan manfaat menulis itu buat Reader. Bagi pemula, tentu manfaatnya adalah memfasihkan menulis itu sendiri. Minimal Reader akan terlatih mengetik, dan hafal letak huruf-huruf   di tuts laptop Reader.
            Dengan menulis, Reader bisa berbagi informasi, bisa mendapatkan banyak teman, mengikat pengetahuan  dan wawasan pun  bertambah,    dapat  menghilangkan kerak-kerak  otak,   berperan mencerdaskan orang lain,   berdakwah, hati pun gembira, dan seterusnya. Intinya, manfaat  menulis  sangat banyak buat Reader. Silakan Reader  menggalinya lebih lanjut. Dengan mengingat manfaat tadi, Reader akan termotivasi lagi menulis, dan terus menulis.           
           
3.      Memenej Waktu dan Melawan Diri
           
            Menulis memang sebuah pilihan, saya tidak bisa memaksa Reader harus menulis karena menulis dan tidak menulis itu pilihan Reader. Reader sendiri yang menentukan  mau menulis atau tidak. Ketika Reader memang ingin jadi penulis, hilangkanlah alasan tak punya waktu, hilangkan alasan sibuk.
            Kalau sibuk yang menjadi alasan tidak menulis, Apakah Reader  lebih sibuk dari Rektor UIN Malang, Pak Imam Suprayogo? Lalu mengapa beliau bisa menulis  setiap hari setelah salat Subuh? Karena beliau  mewajibkan diri, melawan diri, memenej diri untuk  menulis pada waktu itu.
            Kalau Reader hanya menggerutu dengan kesibukan, dan tidak bisa menyiasati kesibukan, saya jamin,  mimpi Reader jadi penulis akan terkubur dalam tidur panjang Reader.
            Jadi, kalau memang Reader berpikir bisa, pasti bisa karena Readerlah yang menyudahinya, mau atau tidaknya melakukan dan melatihnya, serta mengatur waktu. Waktu akan terus berputar dan berlalu begitu saja. Saya tidak bisa memaksa Reader  harus menulis tengah malam, atau setelah salat subuh seperti yang dilakukan Pak Imam, atau  disela-sela kesibukan,  sekali lagi saya tidak bisa memaksa Reader.  Memenej waktu itu urusan Reader sendiri, terserah kapan Reader menentukan waktunya. Tentukan sendiri kapan Reader mau, silakan. Setelah itu, disiplinlah mengisi waktu yang sudah Reader tentukan tadi dengan menulis.
             Menulis itu tidak tergantung suasana yang ada di luar diri Reader. Waktu tenang atau ribut, asal mau mencoba menulis, pasti bisa menulis. Misalnya, menulis  sambil menonton TV, kalau mau melakukan, bisa juga. Ini karena menulis tidak mesti tergantung suasana tenang. Ketenangan itu ada di diri Reader. Saat orang  ribut,  Reader bisa menulis karena Reader bisa membuat ketenangan itu dalam pikiran Reader  sendiri, pasti menulis lancar-lancar saja.
            Jadi, bagi Reader yang berkeinganan menulis, tak perlu terbeban dengan kesibukan, menulislah ketika ada kesempatan, kapan saja, di mana saja, Reader bisa menulis, merdekakanlah pikiran Reader dari semua beban itu, niscaya Reader bisa menulis. Lebih-lebih Reader yang tidak sibuk.
            Untuk mencapai  keterampilan semacam itu, yakni menulis kapan dan di mana saja, juga tidak serta merta didapat, tentu dengan dicoba, diuji pada diri sendiri, dilatih dan dilatih. Nah, kalau Reader belum pernah mencobanya, bagaimana Reader bisa mengatakan bahawa Reader mampu melakukannya. Lakukan dulu, dan yakinkan Reader bisa menulis dalam waktu yang Reader tentukan, setelah itu, coba  keluar dari  kebiasaan Reader.
           
4.      Posisikan Diri Sebagai Pembelajar
           
            Ungkapan pembelajar menulis, sepertinya lebih memotivasi  untuk terus belajar.  Kemudian ditunjang dengan banyak membaca; membaca buku, membaca cerpen, artikel  karya orang lain, membaca dalam artian memperhatikan lingkungan sekitar. Dari situ kita  mendapatkan ide menulis.
            Jadi, kalau Reader ingin menulis, tulis saja, tak perlu takut mengambil langkah pertama. Karena dengan mencoba langkah pertama, Reader akan  belajar  dari  apa yang  sudah Reader lakukan di langkah pertama tadi. Oleh karena itu,  jadilah pembelajar  terus-menerus walaupun Reader sudah pintar menulis.
            Oke, Reader! Cukup sampai di sini dulu jurus yang bisa saya ajarkan. Insyaallah, akan kita lanjutkan dengan jurus-jurus yang lain. Selamat berlatih!