Friday, April 12, 2013

Buku: Antologi Cerpen: Mekar dalam Penantian



Sinopsis Antologi MDP
                Sampai kapan pun tema cinta akan selalu menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerpen. Ibarat masakan, cinta adalah garam atau gula yang kehadirannya sangat dibutuhkan. Tanpa cinta hidup ini terasa hambar. Karena cinta kita bisa bahagia. Karena cinta pula orang bisa merana dan kecewa. Bahkan, mengalami kehancuran.
                Kalau kita perhatikan judul antologi cerpen ini, Mekar dalam Penantian, ada kebahagiaan yang ditawarakn di sini. Ya, memang benar. Mekar adalah lambang  kebahagiaan. Ibarat bunga, sebelum bermekaran, tentu melalui proses. Proses menanam, memupuk dan menyirami sampai akhirnya, bunga pun bermekaran. Nah, dalam proses  itu sendiri   kebahagiaan sudah bisa dinikmati  tergantung bagaimana menyikapi proses itu. Dan, kalau salah  menyikapinya, kebahagiaan  itu tidak akan datang. Bahkan,  layu sebelum berkembang. Semua itu tentu saja tidak luput dari takdir Tuhan.
                Betapa sedih dan merananya si aku ketika  orang yang dicintainya dikabarkan mengalami kecelakaan ketika pulang kampung. Inilah takdir yang tidak bisa dihindari  sang tokoh. Hal ini digambarkan dalam cerpen Putri Teratai. Ketika cinta tak berbalas, hati pun hancur, Anda bisa menemukannya di Dingin Ekstrim Cinta. Di Antologi ini Anda juga bisa menemukan cinta yang menggantung. Ada juga yang mengangkat tema cinta melalui perjodohan dengan kelanggengannya, serta perjodohan yang terpaksa  dibatalkan. Selebihnya cinta suci karena Allah berlandaskan pondasi agama yang kuat, yang melahirkan  kebahagiaan sejati walaupun sebelumnya  banyak rintangan yang menghadang.      Ya,  tema cinta dengan serba-serbinya memang mendominasi antologi cerpen ini.
                Di samping itu, tema keluarga, lingkungan alam dan sosial, pendidikan, juga ada di sini.  Dari beragam tema  tadi  kita bisa menemukan  kesan yang beragam.  Ada kesan  derita, ada  bahagia,  haru, ngeri,  percaya diri, pantang menyerah, kecewa dan geram dengan tingkah para pejabat.  Dan, ada humor  yang membuat Anda  nyenger sendiri karena kenaifan sang tokoh.  
                Pokonya, Anda tidak akan rugi memiliki buku ini. 




Kata Pengantar Ketua GPM Amuntai

                Alhamdulillah, saya sangat bersyukur  dan  berbangga  karena antologi cerpen yang berjudul  “Mekar dalam Penantian”  ini  bisa kita terbitkan.
                Grup Persahabatan Menulis Amuntai (GPM Amuntai) kita bangun atas saran Pak Ersis Warmansyah Abbas selaku penggagas pertama GPM yang ada di facebook.  Walaupun nama grup ini  GPM Amuntai, anggotanya tidaklah terbatas  bagi  mereka yang berasal dari atau  mukim di Amuntai saja. Ya, kebetulan saja pengelolanya orang Amuntai, lalu dinamailah GPM Amuntai.  Karena Grup ini dibangun atas semangat  menebar virus menulis, siapa pun bisa menjadi anggota asalkan memiliki minat untuk terus membelajarkan diri dan terus menebar semangat menulis. Atas dasar itulah Grup ini mencoba merealisasikannya dalam bentuk penerbitan buku. Saya akui untuk merealisasikannya diperlukan perjuangan dan pengorbanan serta dukungan dari para anggota.               Oleh sebab itu, saya ungkapkan rasa kekaguman kepada para penulis buku ini sekaligus terima kasih.
                Judul antologi ini  diambil dari karya Bapak Rijali Hadi yang mengangkat  kehidupan rumah tangga yang menantikan lahirnya buah hati dengan aneka rasa.
                Tema cinta dengan pernak-perniknya mendapatkan porsi yang cukup banyak dalam antologi ini. Namun, bukan cinta picisan yang mengumbar nafsu.   Dan, dilengkapi  tema kepahlawanan, lingkungan hidup dan sosial  dengan serba-serbi kritiknya. 
                Hadirnya antologi cerpen ini patut kita sambut gembira.  Kehadirannya tentu akan menambah khazanah perbukuan di tanah air.
                Kritik dan saran dari para pembaca tentunya sangat kami harapkan. Terakhir, semoga  jerih payah kita  menjadi ladang amal  yang akan kita petik hasilnya di dunia dan di akhirat. Amin.



DAFTAR ISI
1. Putri Teratai oleh Hasbi Salim
2. Mekar dalam Penantian oleh Rijali Hadi
3. Kemenanganku oleh Jerry Riyansyah
4. Dompet Ajaib oleh Mahuzh Amin
5. Ibu Ingin Sekolah oleh Chairul Echwan
6. Tsunami Kalimantan oleh Ersis Warmansya Abbas
7. Petaka di Ujung Antrean BBM oleh Haderi Ideris
8. Tiga Suratku oleh Syamsul Arifin
9. Tentang Rasa oleh Hadiyansyah
10. Kasihan, Lelaki Tua Itu Sudah Pikun oleh Suhadi
11. Cukup Satu Cinta oleh Desy Anis Safitri
12. Jodohku oleh Radhiati
13. Indah Pada Waktunya oleh  Novia Winda
14. Ya Allah, Aku Jatuh Cinta oleh Syarifal Ulfah
15. Ditulis dalam Cahaya oleh Bayu Yoga Dinata
16. Pangeran Saylendra oleh Makmun
17. Permainan Takdir oleh Leni Rahmida
18. Dingin Ekstrim Cinta oleh Wahyu Hidayat
19. Ketika Cinta Memanggil oleh  Eddy Yusuf
20. Proyek Ibuku Oleh: Astri Nor Fitriani


Buku Motivasi Menulis: Pintar Menulis Cerpen dalam Sepekan: Hari Pertama



HARI  PERTAMA
UBAH POLA PIKIR ANDA
                 
                Mengapa banyak orang  beranggapan bahwa menulis itu susah, menulis itu sulit? Dan, apakah Anda termasuk orang yang beranggapan seperti itu?  
            Padahal, jika Anda tahu caranya, menjadi penulis syaratnya tidak terlalu rumit.  Anda cukup  tidak buta aksara. Itulah modal dasarnya. Selanjutnya, Anda terus berlatih menulis dengan menulis. Karena menulis merupakan keterampilan, untuk mendapatkannya tidak ada cara lain kecuali hanya dengan banyak berlatih.
            Sebagai  bahan acuan Anda berlatih menulis, buku  Pintar Menulis Cerpen dalam Sepekan ini  saya susun. Sebenarnya buku ini hanya acuan saja, waktu sepekan menurut saya cukup singkat. Acuan waktu  sepekan yang saya gunakan dalam buku ini bisa tarik-ulur. Anda bisa mengulur waktunya  pintar menulis cerpen dalam waktu tujuh tahun, hehe, lama amat ya, tujuh bulan, tujuh minggu, sebulan. Atau, bisa Anda tarik menjadi tujuh jam Anda sudah pintar menulis cerpen. Itu tergantung  pikiran Anda. Kalau Anda pikir bisa, pasti bisa.  Jadi, sepekan di sini saya gunakan untuk  tahapan kronologis  penulisan buku saja. Tepatnya , Paling tidak ada tujuh tahapan  yang harus kita  lakukan kalau  Anda ingin pintar menulis cerpen. Namun, sekali lagi saya katakan bahwa tahapan atau langkah yang saya tawarkan juga tidak mengikat  harus begitu karena para penulis memiliki kreativitas  masing-masing dalam berkarya.
            Sebagai bahan motivasi awal bagi Anda,  saya punya teman yang cerpen pertamanya dimuat di Serambi Ummah, namanya Syamsul Arifin. Awal kisah, Hari Minggu, tanggal 15 Juli  2012, Syamsul datang ke rumah saya. Ia siswa baru Madrasah Aliyah Rakha Amuntai. Dan ia juga mondok di Asrama Ponpes Raudhatuthalibin asuhan KH.Mukti.  Ia mengenal saya lewat buku saya yang berjudul Mudah Menulis Cerpen, yang ia beli di toko buku Sumber. Sebelum ia datang ke rumah, beberapa hari sebelumnya, ia minta waktu berbicara lewat HP, saya bersedia meluangkan waktu untuknya. Ternyata ia tertarik menulis cerpen setelah membaca buku tersebut. Hampir satu jam  pembicaraan  lewat telepon, banyak pertanyaan yang ia lontarkan, mulai apa  itu tema,  apakah sama dengan judul, perlukah membuat kerangka terlebih dahulu, dan lainnya. Jawaban pemungkas  saya begini, kalau kamu mau menulis cerpen, tulis saja, jangan memikirkan apa itu tema, yang penting menulis.  Alhasil, hari ini ia memperlihatkan karyanya. Luar biasa.
            Alhamdulillah, hati tersenang. Namun, ketersenangan saya agak terusik setelah mendengar ceritanya, bahwa buku yang dibelinya itu disita oleh kakak pembinanya.  Alasannya, barangkali belum saatnya membaca buku-buku seperti itu, atau mungkin kover bukunya  bergambar gadis, entahlah.
            Untuk mengganti bukunya yang disita itu saya hadiahkan buku kiriman Pak Ewa, Percaya Ngak Percaya Menulis Itu Mudah, dan saya kasih juga buku saya, Sekarang Saatnya Belajar Menulis dengan Menulis. Dengan harapan semoga ia lebih semangat menulis.
            Membaca hasil karyanya, saya tercengang. Saya berkata dalam hati, anak ini memiliki potensi yang luar biasa. Ya, walaupun kita akui masih banyak kesalahan, baik dari segi tanda baca, kalimat yang kurang efektif, dan pilihan katanya. Setelah saya koreksi, ia  mengerti dan bersedia memperbaikinya lagi. Saya katakan kepadanya, Kalau sudah diperbaiki, serahkan lagi, dan insyaallah saya edit lagi, lalu kita masukkan ke Antologi GPM  Amuntai. Ia mengakurinya. Rupanya karya tadi ia kirimkan ke redaksi serambi ummah, ternyata diterbitkan. Luar biasa kan?
            Beberapa minggu sebelumnya  siswi MAN 5 Haur Gading juga pernah datang ke rumah, namanya Radhiati. Ia menyerahkan tiga cerpennya. Ia juga mengenal saya lewat buku yang ia baca. Sebagai hadiah untuk memacunya lebih giat menulis, saya hadiahkan buku Menulis Tanpa Berguru karya Pak Ersis Warmansyah Abbas.
            Benar apa yang dikatakan Pak Ewa, belajar menulis, ya dengan menulis. Tak perlu banyak tanya, tak perlu banyak menyoal, tak perlu banyak beralasan. Tulis, pastinya tulisan pun ada. Dua orang siswa yang saya paparkan di atas adalah buktinya. Persolan belum bagus, masih banyak salahnya, tak perlu dipersoalkan. Karena menurut saya hal itu jauh lebih bagus ketimbang tidak menulis. Menulis, nyata hasilnya tulisan. Nah, dari tulisan itulah kita belajar. Kalau salah, tinggal perbaiki. Kalau belum bagus, menulis lagi yang lebih bagus. Kalau belum menulis, apa yang harus diperbaiki? Makanya menulis dulu, baru kita tahu mana salah, mana kurangnya.
            Anda tak perlu heran, kalau Alya yang berumur sebelas tahun, di tahun 2009 ia sudah menerbitkan novelnya yang ketiga, Senyum Monalisa. Lalu Anda bagaimana?  Kalau Anda sudah siap, dan memang berkeinginan pintar menulis cerpen, langkah pertama yang harus  Anda lakukan adalah ubah pola pikir Anda dulu.
            Selama ini Anda menganggap menulis itu sulit.  Anggapan itu yang harus kita ubah. Anda mengatakan itu karena Anda belum tahu caranya. Kalau Anda mengetahui caranya, Anda akan mengatakan bahwa menulis itu memang mudah, setidaknya  menulis itu tidak sesulit yang Anda bayangkan selama ini. Untuk mengubah pola pikir  tadi saya akan memberikan suntikan khusus buat Anda pada uraian berikutnya, sehingga akan  menambah semangat Anda untuk mengubah pola pikir Anda. (Bersambung)


Thursday, December 13, 2012

Cerpen, RAHASIAKAN JATI DIRIKU




             Tetesan embun masih membasahi rerumputan  di kiri - kanan jalan yang aku lalui,  burung  jalak, perkutut, melantunkan lagu kedamaian, mengiringi  hembusan angin perlahan.
 Ah…sudah lama aku tidak melewati jalan ini, begitu sepi, beda dari lima tahun sebelumnya,  biasanya jam segini sudah  ramai dilalui orang.
Sepuluh meter dari tempatku berdiri, ada bangku panjang yang tertancap kokoh di bawah rindang dedaunan.   Aku coba istirahat di bangku itu.
            Tidak jauh dari tempat dudukku ada seseorang yang duduk membelakangiku, kepalanya menunduk, aku dengar sayup-sayup isak tangis, sementara derai  daun pohon yang ditiup angin menambah suasana  pilu.
            Aku membatin, kejadian apa yang menimpa dirinya, sehingga dia bermuram durja seperti itu,  kehilangan anak, atau ditinggal mati suaminya barangkali, atau kematian anak yang dia sanyangi atau ditinggal sang kekasih, atau, atau, atau. Aah… ngapain aku tanya dalam hati, lebih baik aku hampiri saja dia.
            “Maaf  Nak, apa gerangan yang membuatmu bersedih?”
 Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. “Dimana rumah mu biar bapak antar pulang. Tidak baik seorang gadis sendirian di sini, berbahaya!”
 Berbagai pertanyaan yang aku lontarkan, tidak satupun ia jawab, hanya tangis sebagai jawabannya.
            Karena masih penasaran, keesokan harinya, aku lewat di jalan itu lagi, ternyata gadis itu masih ada di tempatnya seperti kemaren, aku bertanya dalam hati, apakah dia tidak pulang?, atau dia pagi- pagi sudah berangkat dari rumah dan duduk-duduk di tampat ini, melepaskan kesedihannya. 
            Nak.., setiap ada malam, pasti ada siang, tidak selamanya gelap. setiap kesusahan pasti ada kemudahan, tidak ada permasalahan yang tidak mungkin diselesaikan,  kalau kita mau berbagi dengan orang lain, coba ceritakan apa masalah yang kau hadapi, dengan begitu, dapat mengurangi beban penderitaanmu.
            Ia mengangkat wajahnya, menatapku. Mulutnya bergetar, kata-katanya terbata: “ A,a,aku”, ia terisak.
 “Tidak ada seorang pun yang dapat meringankan penderitaanku, tidak ada seorang pun yang dapat menonolongku, bahkan semua orang di kampung ini mencela, menghinaku. Mereka tidak salah kalau mereka menghina dan  mencelaku karena memang aku pantas dihina dan dicela. Aku sangat menyesal, penyesalan yang tak ada ujungnya”.
            “Memangnya apa yang terjadi?”
            “Berat, sangat berat, dosa yang aku perbuat sangat besar, mungkin sudah memenuhi langit dan bumi”. Ia menunup wajahnya dengan kedua tangannya, ia senggugukkan.
“Dosaku tak terampuni, aku sudah menjadi seorang pembunuh” Ia semakin terisak, “aku sudah membunuh darah dagingku sendiri”.
            “MasyaAllah, Innalillah” sentakku
            “Dosa di atas dosa Pak, aku hamil di luar nikah, orang yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab, aku menanggung malu, aku putus asa, akal sehatku tidak jalan lagi sampai akhirnya, aku nekat bunuh diri dengan memotong urat nadi tanganku, namun aku masih tertolong, sampai akhirnya aku melahirkan, aku menyesal dan malu, punya anak tanpa ayah, aku tidak berpikir panjang, anak yang baru aku lahirkan yang tak tahu apa-apa, tidak berdosa,  aku buang ke sungai”. Tangisannya makin memilukan.
            “Tidak ada orang yang tidak pernah berbuat dosa Nak, Karena kita adalah tempat salah dan hilap. Sebesar apapun dosa yang kita perbuat, sungguh rahmat dan ampunan Allah sangat besar dan luas melebihi dosa yang kita perbuat. Penyesalan yang kau tunjukkan adalah bukti penyadaran terhadap kesalahan. Selama kita mau bertobat dengan sungguh. Allah akan menerima tobat dan mengampuni kita”
            “Benarkah?, aku bisa terampuni”
            “Asal kita mau bertekad untuk memperbaiki diri, aku yakin Allah akan mengampunimu, mohon ampun dan bertobatlah, kembalilah kepada Allah.           
                        ****
            Semenjak pertemuan itu aku tidak pernah melihatnya lagi duduk di tempat itu.  Dua bulan berselang, aku bertemu dengannya di tempat yang berbeda, di pasar,  aku melihat perempuan itu  penampilannya tidak lagi seperti orang kebanyakan, ia berpenampilan seperti orang  abnormal.
Apa yang terjadi?
****
“Aku memang sudah berubah, Pak. Aku coba memperbaiki diri. Dan inilah hasilnya, sebagaimana yang Bapak lihat”.
“Ya, aku mengerti kamu memang sudah berubah, tapi mengapa harus seperti ini?”
 Begini, waktu itu tepat jam dua dinihari, seperti biasa aku melaksanakan shalat tahajjud, sebagaimana yang Bapak anjurkan, setelah shalat aku mohon ampun kepada Allah, aku ucapkan astaghfirullah dengan penuh penyesalan, aku menangis mengingat dosa-dosa yang pernah aku lakukan. Tiba-tiba, tubuhku seperti melayang, berputar  masuk sebuah lorong yang gelap,  bau anyir darah dan bangkai menyeruak masuk  penciumanku, perutku mulai mual, bergolak dan akhirnya menguras seisi perutku.
Tubuhku berhenti berputar,  ternyata tubuhku semakin ringan, aku melayang seperti kapas, terus melayang sehingga aku tiba di ujung lorong.
Aku melihat secercah cahaya, dari kejauhan, kecil seperti bola, tapi  cukup untuk menerangi sekitarnya, cahaya itu  menuju ke arahku, semakin dekat, cahaya itu semakin membesar, membesar dan membesar, sampai akhirnya pecah di hadapanku, membentuk tujuh buah bola cahaya.
Satu persatu bola cahaya bergerak ke arahku. Bola cahaya pertama masuk  dan bersemayam di kepalaku, terasa dingin, bola cahaya kedua bersemayam di dua tanganku, bola cahaya ketiga merasuk  pada kedua kakiku,  yang keempat bersemayam di perutku, bola kelima meresap di kedua mataku, bola keenam mengendap di kedua telingaku. Tubuhku semakin menggigil. Tiba pada bola yang terakhir.  Ia bergerak surut ke belakang dan berputar, aku mengira ia akan meninggalkanku, ternyata ia hanya mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan.
Di luar dugaanku, ternyata benturan keras bola itu mengilangkan rasa dingin di tubuhku. Namun, dadaku terasa remuk.
Aku berusaha bangkit. Aku terus berusaha, sampai akhirnya aku berhasil berdiri. Ketika aku berhasil tegak dengan kedua kaki yang belum seimbang, bola itu menghantam dadaku lagi, akhirnya aku tersungkur lagi.
Aku merasakan nyeri yang teramat sangat. Aku pasrah. Tidak ada kekuatan lagi yang bisa aku kerahkan untuk berdiri, disaat aku tersungkur  dan merasa tidak berdaya,  tidak  ada lagi kemampuan yang bisa aku upayakan, bola cahaya berhenti menyerangku.
Perlahan namun pasti, cahaya itu mulai bergerak lagi ke arahku, Saat-saat yang mendebarkan, mungkinkah  ajalku akan tiba?  Cahaya itu terus bergerak. Ketika cahaya itu sampai persis di hadapanku, ia  berhenti, kemudia berputar mengelilingiku sebanyak tujuh putaran, kemudian kembali ke hadapanku.
Jantungku berdetak kencang, nafasku memburu, aku  pasrah dengan kemungkinan yang terburuk yang akan menimpaku.
Tiba-tiba bola cahaya itu berputar  sangat cepat sehingga menimbulkan bunyi yang sangat memekakkan telingaku. Aku tidak sanggup menutup  kedua telingaku, karena aku sudah tidak berdaya. Tangan dan kakiku tidak sanggup aku gerakkan, cahaya itu terus berputar di porosnya sampai mengepulkan asap yang tebal sehingga asap itu menyelimuti tubuhku dan   menutupi  pandanganku.
Perlahan asap mulai menipis, bunyi bising mulai berkurang. Perlahan  asap tadi berubah menjadi cahaya dan membentuk sesosok tubuh. Alangkah terkejutnya aku, sesosok  tubuh itu  ternyata diriku sendiri. Allahuakbar… subhanallah..., masyaallah.
Aku terus menyungkur dan merasakan ketiadaan.     Ketika aku memandang langit, wajahku ada disitu. Ketika memandang bulan dan bintang yang indah ternyata wajahku juga ada di situ. Dalam jilatan api yang menyala,   di setiap tangisan bayi, disetiap tawa, canda dan kesedihan, siang dan malam,  di setiap warna, di setiap sudut, ruang dan waktu.  Allahuakbar…..
            Aku merasakan kesejukan, kedamaian abadi. Namun, setelah aku kembali pada puncak kesadaran. Akal dan jiwaku memaksaku untuk menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya. Aku diperintahkan menjadi manusia abnormal, agar senantiasa merasakan  kelemahan, rasa hina, dan selalu berhajat kepada Sang Pencipta jagat raya.  Begitulah Pak, hanya Bapak yang tahu ceritaku ini, Tolong rahasikan jati diriku.

Kiat Menulis, Tulis Saja, Jangan Takut Salah


Kiat Menulis, Tulis Saja, Jangan Takut Salah
Haderi Ideris
                Aktivitas menulis, menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan  bagi sebagian orang dianggap sulit, apalagi menulis cerpen. Katanya kalau menulis  cuma cumut sana, kutip sini, tanggapi sedikit, diulas menurut pendapat sendiri, jadi deh tulisan. Kalau seperti  itu katanya tidak terlalu mengagumkan. Katanya lagi beda dengan cerpen, yang masuk pada ranah fiktif, harus memerlukan daya khayal yang tinggi. Nah, imajinasi ini  yang menurut sebagian orang dianggap sulit. Ketika orang tersebut bisa membuat karya fiksi seperti cerpen, novel,  katanya sungguh mengagumkan. Benarkah?

                Barangkali  ada benarnya juga, namun, bagi saya aktivitas menulis apa pun, fiksi  maupun non-fiksi  sama-sama mengagumkan. Pasalnya, kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk, masih secuil  orang yang mau dan mampu menulis. Padahal ketika ditanya, apakah Anda ingin bisa menulis?  Dari lubuk hati, kita akan menjawab, tentu saja ingin. Namun, disayangkan masih sebatas ingin. Akhirnya, keinginan itu terkubur  bersama mimpi,  tak mungkin terwujud dalam kenyataan. Berbeda dengan mereka yang melakukan, menulis, lalu menulis lagi, dan terus menulis. Hasilnya nyata, berupa tulisan.

                Bagi yang ingin menulis, tulis saja, jangan takut salah, jangan takut dikritik, jangan takut dicemooh. Namanya juga belajar, orang yang belajar wajar saja salah. Salah bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diperbaiki.  Kalau menulis mamatok harga mati harus langsung bagus, saya yakin justru hal itu akan membelenggu diri sendiri, sedikit-sedikit salah, kalau tahu salah, dicoret, sedikit-sedikit kita menganggap tulisan kita tidak bagus, akhirnya malu mempublikasikan. Kalau anggapan seperti ini yang kita pelihara,  bisa dipastikan satu tulisan pun tidak akan pernah selesai.

                Solusinya, tulis saja dulu,  masalah bagus tidaknya, itu perkara nanti, yang penting  dalam pikiran kita tulisan  itu harus selesai.  Dalam proses belajar, terus saja menulis, karena sejelek-jelek tulisan,  sehancur-hancur tulisan, pasti  ada saja kandungan manfaatnya, paling tidak, kita sudah menghasilkan tulisan walau masih jelek. Ya toh?

                Perlu diingat kalau tulisan sudah kita anggap selesai, jangan malu mempublikasikan. Karena sejelek apapun tulisan kita, pasti ada yang suka. Dan sebagus apa pun tulisan yang dihasilkan, pasti ada juga orang yang tidak suka. Jadi, bagi yang berkeinginan kuat mewujudkan mimpinya jadi penulis, fokuskan diri  untuk terus menulis, jangan hiraukan gangguan kiri-kanan kita. Dan publikasikanlah.

                Sekarang,  mempublikasikan tulisan sangat mudah. Posting di fesbuk, tulisan kita pun akan nampang, dan bisa dibaca banyak orang. Jangan takut tidak dibaca, yang penting  berani mempublis tulisan. Masalah dibaca atau tidak dibaca orang, jangan dipersoalkan.  Kalau dikritik, dan kritikannya membangun, terima. Kalau mencemooh, anggap saja  itu sebagai pelecut diri  untuk membuktikan pada mereka, kita berani menulis dan mempublis tulisan. Jangan patah arang, jadikan cemooh itu pendorong  untuk lebih giat melatih diri, tunjukan pada mereka yang mecemooh, bahwa kita tak ambil pusing dengan mereka, dan kita terus maju, melangkah menggapai impian kita untuk memfasihkan menulis.

                 Pancangkan dalam pikiran kita bahwa kita belajar. Ingatlah bahwa menulis itu melalui proses, dan sadarilah bahwa penulis terkenal pun sama seperti kita, ketika mereka memulai menulis, mereka juga jatuh bangun, mereka juga tidak serta merta fasih menulis. Mereka fasih menulis karena memang terus melakukan, melatih diri dengan terus menulis.
               
                Kalau kita sudah paham dan yakin dengan apa yang dikemukakan di atas, tunggu apa lagi, menulislah. Kalau mau menulis cerpen, tinggal tulis,  selesai, dan publis. Mudahkan?

                Hahaha,   ada yang menyoal, ternyata mudah menulis itu hanya  pada ranah wacana. Ketika  mau menulis, dan bersiap menulis, huuuh, sulitnya minta ampun. Jangankan menyelesaikan satu cerpen, satu paragraf saja  tidak bisa kelar.  Kalau ini masalahnya, berarti kita belum paham apa yang dimaksudkan pada ujaran sebelumnya. Berarti  kita masih terbelunggu, oleh keinginan bahwa menulis harus langsung bagus. Oleh karena itu,  jangan pikir langsung bagus dulu. Bebaskan pikiran kita dari hal demikian. Pikirkanlah bahwa kita  harus menghasilkan tulisan. Kalau kita berpikir ingin menulis cerpen, tulis saja, dan fokuslah pada selesainya tulisan, bukan pada hasil bagus tidaknya tulisan.

                Untuk memudahkan menulis,   menulislah seperti kita bercerita, berbicara pada teman akrab secara lisan.  Coba ingat  berapa banyak kata dan kalimat yang keluar dari lisan kita  ketika berbicara  sama teman, istri, atau anak-anak, sepertinya tidak ada masalah, lancar-lancar saja. Begitulah menulis, anggap saja ketika kita menulis kita bercerita pada teman akrab kita. Fokus dan  libatkanlah emosi, perasaan kita, masuklah pada cerita, kalau cerita sedih, dan kalau perlu menangis menangislah ketika kita menulis.

                Seperti itulah  pengalaman saya, ketika membuat cerpen pertama saya di tahun 2008 dengan judul Kujaga Rahasimu.  Saya menulis sambil menangis, karena saya menjiwai cerita, seolah merasakan sakit hatinya sang tokoh. Begitu pula dengan cerpen saya Pilihan Terindah, yang dimuat dalam buku ini, yang sebelumnya pernah di publis di Majalah Cahaya Nabawy edisi Maret 2012.

                Untuk memulai menulis, kita perlu pemicu untuk melecutkankannya dalam bentuk tulisan. Bahasa sederhanya, menulis cerpen bisa kita mulai dengan menggali ide cerita, tema cerita yang akan kita angkat. Untuk menemukannya banyak cara yang bisa kita lakukan, bisa dari pengalaman pribadi, bisa juga dari pengalaman orang lain, atau kita bisa menemukan ide itu dari bahan bacaan.

                Saya ambil contoh cerpen saya Pilihan Terindah, ide cerita ini saya ambil dari pengalaman teman saya   yang sudah lama menikah, namun belum dikaruniai  anak. Berarti tema umunya, tema sentralnya adalah mengangkat masalah rumah tangga, lalu dipersempit lagi pada masalah rumah tangga yang ingin mendapatkan keturunan. Dari situ saya kembangkan  ceritanya, masalah alurnya mengalir sendirilah, mau kemana terserah saja dulu, konfliknya  juga muncul seiring daya khayal kita, berkalaborasi dengan  pengetahuan yang kita miliki. Kalau sudah selesai, baru saya edit lagi, jadi deh cerpen.
               
                Nah, sudah jelaskan. tunggu apa lagi, menulislah. Kalau sudah menulis, dan hasilnya tulisan. Tentu ada  banyak hal yang bisa kita pelajari kembali dari hasil tulisan kita. Oh ini salah, ini kurang bagus, seharusnya begini. Kalau kita belum bisa menemukan di mana salahnya, di mana jeleknya, jangan takut minta masukan orang lain. Kalau belum menulis, apanya yang diperbaiki, apanya yang dimintai masukan dan kritikan? Oleh karena itu, menulis dululah.

                Semoga  secuil pengalaman ini bisa bermanfaat bagi pembaca, amin. wallahua`lam.